Tuesday, March 31, 2015

Mobile Broadband di Indonesia Baru 3,5 Persen

KOMPAS.com - Perusahaan layanan cloud, Akamai Technologies Inc, telah merilis laporan berkalanya tentang kondisi internet di berbagai negara. Menurut laporan tersebut, kecepatan internet mobile di Indonesia adalah 2 Mbps.

Dalam penelitiannya tentang internet mobile, Akamai mensurvey sekitar 56 negara di dunia. Indonesia sendiri pada kuartal I 2014 disebut memiliki kecepatan internet mobile rata-rata 2 Mbps. Kecepatan internet mobile tertinggi di Indonesia selama periode tersebut tercatat 10,8 Mbps.

Akamai juga menyertakan statistik adopsi internet mobile broadband (kecepatan internet mobile di atas 4 Mbps) di negara-negara tersebut. Dan ternyata, tingkat adopsi broadband mobile di Indonesia baru sekitar 3,5 persen.

Artinya, dari seluruh pengguna internet mobile di Indonesia (sekitar 61,2 juta, data Emarketer per Maret 2013), baru 3,5 persennya yang memiliki kecepatan di atas 4 Mbps.
Dibandingkan dengan negara lain, Korea Selatan menjadi pemimpin di kawasan Asia. 

Korea Selatan menurut Akamai memiliki kecepatan rata-rata internet mobile sebesar 14,7 Mbps, dengan tingkat penetrasi mobile broadband mencapai 78 persen.

Korea Selatan juga menjadi satu-satunya negara yang memiliki kecepatan rata-rata internet mobile di atas 10 Mbps saat ini.

Vietnam menjadi negara di Asia dengan kecepatan rata-rata internet mobile paling rendah, yaitu 1,1 Mbps dan penetrasi broadband 0,1 persen.

Seperti tahun lalu, Akamai juga menyertakan laporan perkembangan lalu-lintas data mobile yang dilakukan oleh Ericsson.

Dalam penelitian di 180 negara dan 1.000 jaringan seluler, menunjukkan bahwa lalu-lintas data tumbuh pesat sementara suara cenderung stagnan. Menurut Ericsson, volume lalu-lintas data mobile tumbuh 15 persen, kuartal demi kuartal.
Laporan lengkap tentang kondisi internet yang dibuat oleh Akamai bisa dibaca dengan mengunjungi tautan berikut ini.
Read More

Monday, March 30, 2015

Google Tertarik ikut Proyek Kabel Laut

KOMPAS.com - Google sedang mempertimbangkan investasi baru di bidang kabel laut yang melintasi Samudera Pasifik. Langkah ini akan menguntungkan Google untuk memperlancar dan mengamankan lalu lintas internet ke layanannya.

Seorang sumber yang dekat dengan rencana ini mengatakan kepada The Wall Street Journal, upaya ini dilakukan Google untuk menghubungkan pusat datanya di Oregon, Amerika Serikat, menuju Jepang.

Google merasa perlu mengamankan informasi penting yang tersimpan di pusat data mereka dan memastikan bahwa pihak di luar jaringannya tidak dapat mengakses informasi perusahaan.

Selama ini, sejumlah jaringan Google masih memanfaatkan jaringan publik, yang memungkinkan beberapa pihak dapat mengakses dan terhubung dengan jaringan-jaringan lain.

The Wall Street Journal melaporkan, sebelumnya Google pernah berinvestasi sebesar 300 juta dollar AS untuk ikut dalam proyek pembangunan kabel laut tahun 2010.
Read More

Amazon Lawan Dominasi Smartphone Samsung dan Apple

KOMPAS.com - Perusahaan e-commerce Amazon asal Amerika Serikat, sukses menjual komputer tablet Kindle Fire untuk pasar Amerika Serikat. Kini, mereka ingin menghadang dominasi ponsel Samsung Galaxy dan Apple iPhone melalui produk baru Fire Phone.

Fire Phone ditujukan untuk segmen pasar menengah ke atas. Saat ini, ia akan bersaing dengan iPhone 5s dan ponsel pintar berbasis Android kelas atas, antara lain Samsung Galaxy S5, Sony Xperia Z2, dan HTC One M8.

Fire Phone mengusung layar seluas 4,7 inci dengan resolusi 720p, prosesor dari Qualcomm, unit prosesor grafis Adreno 330, dan RAM 2GB.

Dari sisi sistem operasi, Fire Phone berjalan dengan Fire OS 3.5. Sejatinya, sistem operasi ini berbasis Android namun telah dimodifikasi oleh Amazon sehingga dapat menghadirkan sejumlah fitur yang tidak ada di ponsel Android lainnya.

Kelebihan utama produk ini terletak pada unit kamera dan integrasi dengan aplikasi dan konten digital yang disediakan Amazon.

Dalam sebuah jumpa pers di Seattle, Amerika Serikat, Rabu (18/6/2014), CEO Amazon Jeff Bezos, menjanjikan kualitas foto Fire Phone lebih baik dari iPhone 5s dan Galaxy S5. Kamera belakang Fire Phone dibekali sensor 13 megapixel dengan lensa f/2.0 dan optik untuk menstabilkan gambar. Amazon menyediakan tombol rana di sisi samping ponsel, untuk memudahkan pengambilan gambar.

Di sekitar layar terdapat empat unit kamera menghadap depan dan diletakkan di setiap sudut ponsel. Bezos mengatakan empat kamera ini berfungsi untuk membuat perspektif dinamis hingga melacak kepala pengguna.

Ia memperlihatkan bagaimana empat kamera depan itu bekerja. Ketika membuka fitur Maps, dan mencari sebuah restoran, perspektif peta digital berubah setiap kali ponsel dimiringkan.

Fire Phone juga dirancang untuk mendukung ekosistem yang selama ini dibangun Amazon. Di sana terdapat toko aplikasi Amazon Appstore, hingga fitur untuk menikmati konten musik, video, dan buku digital di Amazon.

Ponsel ini dapat mencocokan gambar atau konten lagu ke database katalog produk Amazon. Misalnya, jika pengguna memotret sebuah buku lalu buku itu tersedia di situs e-commerce, ia akan menawarkan pengguna untuk membelinya secara online.

Fire Phone mulai dijual pada 25 Juli 2014 di Amerika Serikat dengan harga 649 dollar AS tanpa kontrak, sementara untuk sistem kontrak dihargai 200 dollar AS. Amazon belum mengumumkan ketersediaan produk ini di negara lainnya.

Jika Amazon sungguh ingin menghadang Apple dan Samsung, mereka harus memperluas ketersediaan produk ini di negara lainnya.

Samsung saat ini menjadi pemimpin di industri ponsel pintar. Menurut data lembaga riset IDC, Samsung mengirimkan 85 juta unit ponsel pintar ke seluruh dunia atau menguasai 30,2 persen pangsa pasar pada kuartal pertama 2014. 

Di posisi kedua ditempati oleh Apple yang mengirimkan 43,7 juta unit ponsel pintar atau menguasai 15,5 persen pangsa pasar pada kuartal pertama 2014. Posisi ketiga hingga lima diduduki oleh Huawei, Lenovo, dan LG.
Read More

Gelar 4G LTE, XL Tinggal Tunggu "Komando"

KOMPAS.com - Regulasi tentang 4G LTE untuk operator berlisensi GSM dan CDMA memang belum ditetapkan oleh pemerintah, namun XL Axiata menyatakan sudah siap menggelar jaringan internet berkecepatan tinggi itu dan tinggal menunggu "komando" dari pemerintah.

“Kalau pemerintah mengeluarkan lisensi LTE hari ini, maka hari ini juga bisa kita hidupkan. Kita sudah siap,” ujar Vice President Project Management XL Axiata Agus Simorangkir saat membawakan presentasi hasil uji jaringan XL Net Rally 2014 di Yogyakarta, Kamis lalu.

Agus menyatakan pihaknya memang sudah menyiapkan jaringan 4G LTE di sejumlah lokasi di Indonesia. 

Dia mencontohkan Bali, tempat XL bersama sejumlah operator seluler lain sempat menggelar uji luar ruangan jaringan LTE pada KTT APEC, Oktober 2013 lalu. Namun, Agus tidak merinci di wilayah mana saja XL siap menggelar jaringan LTE.  

Agus mengatakan XL sedang menunggu keputusan pemerintah soal spektrum frekuensi mana yang hendak dipakai untuk penerapan teknologi LTE. 

XL sendiri mengantongi izin penggunaan frekuensi 1.800 MHz dan 2.100 MHz. Menurut Agus, frekuensi 1.800 MHz memiliki ekosistem yang besar di dunia untuk menggelar 4G LTE.

Setelah selesai melakukan akuisisi dan merger dengan Axis pada April lau, XL memiliki alokasi frekuensi 22,5 MHz di spektrum frekuensi 1.800 MHz. Alokasi frekuensi tersebut cukup ideal untuk menggelar 4G LTE. Sebelumnya mengakuisisi Axis, XL hanya memiliki alokasi frekuensi 7,5 MHz di spektrum 1.800 MHz.

Agus melanjutkan, bahwa pihak International Telecomunication Union (ITU) merekomendasikan frekuensi 700 MHz untuk menggelar 4G LTE. Namun, di Indonesia, frekuensi tersebut masih dipakai untuk siaran televisi analog sehingga tak tersedia untuk menggelar jaringan LTE.

“Kita sih berharap ada frekuensi tambahan, tapi kalau tidak ya teknologi netral. Jadi, frekuensi berapa saja bisa digunakan untuk LTE, tergantung sumber daya yang dimiliki operator,” pungkas Agus.
Read More

Telkomsel Siap Gelar 4G LTE di 5 Kota

SURABAYA, KOMPAS.com - Meskipun Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) belum membuat aturan main soal penyelenggaraan 4G LTE, namun sejumlah perusahaan telekomunikasi telah menyatakan siap menggelar jaringan mobile generasi keempat itu, termasuk Telkomsel.

Dari sisi infrastruktur, sejumlah base transceiver station (BTS) Telkomsel di kota-kota besar sudah mendukung 4G LTE.

Direktur Penjualan Telkomsel, Mas'ud Khamid mengatakan, pihaknya bakal mengkomersialkan 4G LTE di 5 kota besar di Indonesia jika Kemenkominfo selesai membuat aturan mainnya. Namun, ia belum mau mengungkapkan kota mana saja yang diincar.

"Yang jelas kami sudah incar 5 kota, tapi tidak bisa diungkap sekarang, nanti ketahuan sama kompetitor. Yang jelas 5 kota ini trafik datanya (internet) terbilang tinggi," ucap Mas'ud usai jumpa pers di Surabaya, Selasa (10/6/2014).

Bukan hanya Telkomsel, operator telekomunikasi lain seperti Indosat, XL Axiata, Tri, dan Smartfren, juga menyatakan siap beralih ke LTE. Tri merekomendasikan LTE digelar di spektrum frekuensi 1.800MHz.

Para petinggi operator telekomunikasi meminta agar pemerintah memerhatikan ekosistem 4G LTE yang populer dipakai, termasuk soal spektrum frekuensi dan ketersediaan perangkat ponsel yang banyak tersedia. 

Sejauh ini, spektrum frekuensi 700MHz, 1.800MHz, 2.100MHz, dan 2.300MHz, terbilang favorit untuk menggelar LTE.

Direktur Jaringan Telkomsel Abdus Somad, menambahkan, hal lain yang perlu diperhatikan adalah pemilihan teknologi 4G LTE. "Saya pikir FDD (Frequency Division Duplexing) LTE adalah teknologi yang ekosistemnya sangat besar di dunia, jadi kita bisa adopsi itu," tuturnya.

Hingga kini Kemenkominfo masih menyusun regulasi penyelenggaraan LTE bagi operator berlisensi GSM dan CDMA. Pemerintah berencana memanfaatkan teknologi netral, yang berartI jaringan 4G LTE bisa digunakan pada spektrum frekuensi apa saja yang tersedia dan dimiliki oleh sebuah perusahaan telekomunikasi.
Read More

Temple Run Tembus 1 Miliar Unduhan

KOMPAS.com - Game "lari tanpa henti" Temple Run ternyata telah menembus 1 miliar unduhan. Hal itu diumumkan oleh pengembangnya, Imangi Studios. 

Seperti diberitakan oleh TheVerge, angka 1 miliar unduhan itu mencakup Temple Run dan sekuelnya, Temple Run 2.

Jika digabungkan, seluruh pemain di Temple Run di seluruh dunia telah berlari sepanjang 50 trilyun meter. Jumlah permainan yang dimainkan mencapai lebih dari 32 miliar kali. 

Sukses Temple Run di smartphone menjadi momentum untuk berbagai game di genre endless runner alias "lari tanpa henti". Ini adalah jenis game di mana pemain hanya mengendalikan gerakan seperti berganti jalur ke kiri dan ke kanan atau melompat, sedangkan tokohnya berlari tanpa henti sepanjang game. 

Imangi Studios mengungkap beberapa hal menarik dari game tersebut. Misalnya, game itu ternyata lebih banyak dimainkan oleh perempuan (60 persen). Temple Run juga disebut paling banyak diunduh di Tiongkok (36 persen), menyusul kemudian Amerika Serikat (21 persen). 

Selain dua game Temple Run, Imangi juga merilis game untuk Disney (Brave dan Wizard of Oz) yang mengadopsi permainan Temple Run. 

Keith Shepherd, pendiri Imangi Studios, mengatakan pihaknya saat ini sedang mengembangkan game lain di luar genre endless runner. Namun ia tak menutup kemungkinan akan hadirnya game Temple Run 3.
Read More

Friday, March 27, 2015

Google Siapkan Rp 11 Triliun untuk Satelit

KOMPAS.com — Google dilaporkan bakal menyiapkan dana lebih dari 1 miliar dollar AS (sekitar Rp 11,7 triliun) untuk menyediakan satelit yang bisa menghadirkan akses internet ke wilayah-wilayah dunia yang belum terjangkau internet. 

Bahkan, seperti dilaporkan Wall Street Journal, angka itu bisa membengkak hingga 3 miliar dollar AS. 

Proyek akses internet global itu dikatakan akan dimulai dengan 180 satelit kecil dengan kapasitas internet tinggi yang mengorbit bumi di ketinggian rendah, lebih rendah dari umumnya orbit satelit. 

Sebelumnya, Google pernah mengumumkan proyek pengadaan akses internet menggunakan balon udara. 

Salah satu indikasi kesiapan Google untuk "bermain" satelit adalah masuknya Brian Holtz dan Dave Bettinger ke perusahaan raksasa itu. Keduanya dikenal memiliki latar belakang di perusahaan satelit komunikasi.

Upaya untuk mencapai penduduk dunia yang masih "miskin internet" itu juga konon dilakukan oleh Facebook. Dilaporkan pula bahwa Facebook melakukan hal serupa dengan memanfaatkan pesawat tanpa awak (drone), satelit, dan teknologi laser. 

Baik Google maupun Facebook tak bisa dibilang sekadar dermawan dalam upaya-upayanya ini. Ujung-ujungnya, apalagi kalau bukan untuk mendapatkan pemasukan tambahan dari iklan?
Read More